Next
Previous

Jumat, 31 Mei 2013

0

Ekosistem Antartika Berusia 33 Juta Tahun



Biosense-Penelitian terbaru mengungkapkan, ekosistem modern benua es Antartika berusia sekitar 33,6 juta tahun, dengan sistem yang berasal dari periode pembentukan awal lapisan es kutub.

Usia tersebut diketahui dengan meneliti fosil plankton yang ditemukan di lapisan sedimen Antartika, yang menunjukkan bagaimana plankton dalam jumlah besar mati saat hawa dingin melanda pada akhir periode Eosen dan awal periode Oligosen. 

Sebelum transisi periode tersebut, Bumi merupakan tempat yang jauh lebih hangat daripada saat ini, dan plankton dalam jumlah besar bahkan dapat hidup di kutub.

Penelitian tersebut, yang diterbitkan di jurnal “Science” pada April, berfokus terhadap plankton bersel satu yang dinamakan dinoflagelata, yang memiliki zat-zat penyusun tubuh yang dapat berubah menjadi fosil. Sebelum transisi periode Eosen-Oligosen sekitar 34 juta tahun yang lalu, dinoflagelata Antartika sangatlah beragam jenisnya. Namun saat lapisan es terbentuk, hanya plankton yang tahan terhadap suhu dingin dan siklus membeku-mencairnya es yang tersisa.

Lapisan es Antartika merupakan es yang mengapung di atas laut yang meleleh pada musim panas dan membeku pada musim dingin. Saat meleleh, plankton di Samudra Antartika yang mengelilingi Benua Antartika menjadi aktif dan mencari makanan dari lapisan es yang mencair. Dampaknya bersifat global, ujar peneliti Carlota Escutia dari Andalusian Institute of Earth Sciences di Spanyol.

“Fenomena ini memengaruhi dinamika produktivitas primer dunia,” ujar Escutia dalam sebuah pernyataan. Produktivitas primer merupakan dasar dari rantai makanan: organisme yang mampu melakukan proses fotosintesis seperti plankton menangkap sinar matahari dan nutrisi seperti besi dan nitrat, serta mengubahnya menjadi senyawa organik. 

Organisme yang lebih besar kemudian memakan plankton dan menggunakan senyawa tersebut sebagai sumber energi.

“Perubahan besar terjadi saat spesies-spesies plankton menyederhanakan bentuk tubuh mereka dan terpaksa harus beradaptasi dengan kondisi iklim yang baru,” ujar Escutia.

Ekosistem bersalju terbentuk setelah periode Eosen ditandai dengan tingginya jumlah plankton di musim semi dan musim panas, yang memicu hewan pemakan plankton seperti paus berdatangan untuk memangsa plankton.

“Tingginya jumlah dinoflagelata yang beradaptasi dengan lapisan es membuktikan terjadinya perubahan rantai makanan di Samudra Antartika,” ujar peneliti Jörg Pross, seorang ahli paleoklimatologi dari Universitas Goethe di Jerman, dalam sebuah pernyataan. “Data yang kami miliki menunjukkan, perubahan ini kemungkinan memicu evolusi paus bailin dan penguin.

http://id.berita.yahoo.com/ekosistem-antartika-berusia-33-juta-tahun-042950391.html
0

Tanaman usia 400 tahun menunjukkan tanda-tanda kehidupan



Biosense-Tanaman yang ditemukan di Arktik dan berasal dari Zaman Es Kecil kembali hidup.

Tanaman ini bukan tipikal tanaman rumahan biasa. Spesies bernama bryophytes ini sering mengering sepanjang musim dingin lalu kembali menunjukkan tanda kehidupan setelah beberapa waktu. 

Namun bahwa mereka bisa bertahan di gletser beku selama 400 tahun adalah sebuah kejutan. 

Peneliti dari University of Alberta menemukan bahwa tanaman-tanaman ini berasal dari Gletser Arktik Kanada, menurut BBC News. 

Gletser ini sudah membeku sebagian sehingga ilmuwan bisa melihat tanaman ini. Mereka kemudian mengambil dan membawanya ke lab.

"Saat kami melihat tanaman itu secara mendetail dan membawanya ke lab, saya sadar ada batang-batang yang tumbuh baru di cabang lateral, dan saya tahu tanaman ini sedang beregenerasi di lapangan, dan saya sangat terkejut," kata Catherine La Farge yang melaporkan temuan tersebut pada BBC News.

Ini bukan temuan unik pertama di Arktik. Ilmuwan mengungkap bulan lalu bahwa mereka menemukan bukti terdapat unta kuno--seperti yang sekarang ditemukan di gurun Sahara--di Arktik Kanada, 3,5 juta tahun lalu.

http://id.berita.yahoo.com/tanaman-usia-400-tahun-menunjukkan-tanda-tanda-kehidupan-055119434.html

Jumat, 03 Mei 2013

0

GARIS MERAH HITAM

Sains dan Teknologi 2011

Garis merah hitam merupakan tema Inagurasi 2011 Fakultas Sains dan Teknologi (Saintek) UIN Alauddin Makassar yang akhirnya berlangsung tanggal 23 April 2013 di gedung Mulo. Inagurasi yang menjadi langkah untuk mempererat Sembilan jurusan di Fakultas Saintek akhirnya membuahkan kesuksesan. Dari target acara yang diundur berulang-ulang kali akhirnya berhasil di jalankan. Bahkan banyak cerita yang terpahat merdu di selang waktu menuju Inagurasi. Optimisme yang membara untuk beberapa mahasiswa Saintek ini terus diperjuangkan, mulai dari menggumpulkan massa yang akan saling bekerjasama sampai pada anggaran dana yang sulit untuk dicapai.
Rencana pelaksanaan Inagurasi 2011 Saintek sudah diperbincangkan sejak akhir tahun 2012. Berawal dari rencana akhirnya rapat pembentukan panitia terlaksana dengan susunan panitia sebagai berikut:

PANITIA INAGURASI
Fakultas Sains dan Teknologi 2011
“Garis Merah Hitam”

Susunan Kepanitiaan:
Ketua         : Ilham Azhari Said
Sekertaris   : Windy Sahar
Bendahara : Nur Hafni

Susunan Koordinator Kegiatan:
1.   Koordinator Acara                                    : Zul Janwar
2.   Koordinator dokumentasi                         : Aswan
3.   Koordinator humas/marketing                  : Febrianto
4.   Koordinator Dekorasi dan Pementasan     : Andi
5.   Koordinator Keamanan                            : Firman
6.   Koordinator Perlengkapan                       : Suma
7.   Koordinator Konsumsi                              : Sri
8.   Koordinator Kesehatan                             : Nurjannah
9.   Koordinator Optional                                : Isnan

Sembilan jurusan Saintek

Setelah terbentuknya susunan panitia, akhirnya keputusan untuk mencari dana semaksimal mungkin di usulkan. Pencarian dana yang dilakukan dengan menjual makanan dan minuman di tempat-tempat refreshingpun mulai di terapkan. Sementara beberapa panitia focus pada dana, sebagiannya memfokuskan pada target gedung yang akan digunakan untuk acara ini.
Selain menjual makanan dan minuman mahasiswa Saintek 2011 juga melakukan bazar yang dilaksanakan di warkop Bundu 18 Januari 2013.
Walaupun untungnya tidak banyak mahasiswa Saintek 2011 tetap bersih kukuh mengerahkan tenaganya untuk memaksimalkan dana Inagurasinya. Menciptakan ide secemerlang mungkin untuk dapat mencapai target.
Ngamen, penggalangan dana inagurasi

Bersama kita bisa. 

Dari banyaknya cerita yang terpahat berkelok-kelok di sepanjang jalan menuju Inagurasi ini banyak sekali rintangan, termasuk massa yang terkadang acuh tak acuh dengan acara mereka sendiri. Tapi berpindah dari banyaknya massa yang dibutuhkan ternyata banyak jiwa-jiwa yang masih punya rasa kepemilikannya membangkitkan semangat untuk acara ini.
Berawal dari penggalangan dana yang dilaksanakan di lapangan Syekh Yusuf muncul ide yang cemerlang untuk pembuatan Stand penjualan. Ide Aulia Rizki Bustamal akhirnya mulai dikerjakan keesokan harinya. Tempatnya tepat di depan Fakultas Ilmu Kesehatan, menjadi sebuah pertimbangan karena banyaknya penjual bakso dan sedikitnya penjual minuman disamping itu lapangan ini menjadi pusat olahraga yang paling banyak dilakukan mahasiswa UIN Alauddin Makassar.
Penawaran penjualan alla Ulla syafran

Saat setelah pembersihan stand penjualan

Berkali-kali rapat mempersiapkan Inagurasi dilaksanakan, mirisnya sedikit sekali yang punya partisipasi, yah mereka yang memiliki jiwa-jiwa kepemilikan yang terpanggil. Rapat 4 Maret 2013 menghasilkan usulan jenis pementasan yang akan dilakukan mulai dari Tari, Sastra, Musik dan Film.
Setelah mencari pemain dan berlatih ternyata banyak kendala sampai harus tertunda lagi latihannya, hingga akhirnya rapat akbar yang berlangsung 28 Maret 2013 dilaksanakan di gedung E Lantai 3 Fakultas Sains dan Teknologi yang menghadirkan pengurus BEM Saintek dan Ketua Himpunan Mahasiswa (HMJ) Jurusan di Fakultas Saintek. Membangkitkan semangat yang baru lagi untuk tetap bersemangat mencapai target ini.
Kahar & Ilham. Penggalangan dana

Ainun & Fadel semangat promosi jualan kemana-mana

Sepanjang perjalanan yang berkelok-kelok bahkan terkadang membalik ke belakang pun benar-benar terjadi. Cerita dari harus mengorbankan jam kuliah demi menjaga Stand penjualan ini menjadi cerita sendiri untuk mahasiswa Sanitek 2011.
Pembersihan Stand juga dilakukan setiap akhir minggu. Begitu juga dengan latihan yang terus di press untuk hasil yang maksimal.
Akhirnya pada tanggal 17 April 2013 pembuatan bendera masing-masing jurusan mulai di kerjakan dengan target tanggal 20 April 2013 Inagurasi akan dilaksanakan. Semangat untuk menekan dana dan jadwal latihan mulai benar-benar terlaksanakan.
Pala pucing deh. :)
Proses pembersihan stand

Ternyata di selang target itu acara ini diundur menjadi tanggal 23 April 2013, dan benar-benar terlaksanakan. Benar-benar memuaskan usaha yang selama ini diperjuangkan. Benar merajutkan tali Merah dan Hitam, lebih erat dan lebih dekat lagi. Menimbulkan kepuasan yang jauh dari segalanya. Mulai tersenyum sesama melihat acara yang akhirnya terlaksana juga. Tertawa dan berpelukan besama, benar-benar satu kegiatan yang menjadi pembentuk keluarga sejahtera yang baru, menjadi awal kebersamaan yang lebih merekat.

Selamat Untuk Anak Saintek 2011 atas Inagurasinya.
SALAM MERAH HITAM

Minggu, 10 Februari 2013

2

Banyak Hati, 1 Maksud Beda Keputusan


Kisah ini adalah suatu pengalaman berharga yang berawal dari mencari bahan praktikum hingga salah memilih jalan pulang.
Hari ini tanggal 13 januari 2013. Saya masih bergelut bersama bantal dan keluarga kecil di tempat tidur. Yha, hari ini saya tidur dirumah Dani, dia sekarang merupakan adik, teman ataupun saudara yang melekat tentram dengan saya saat ini.
Tiba-tiba handphone saya berdering “Bio Ainy memanggil”, saya akhirnya bangkit dari ketermalasan saya dan mengangkat handphone yang kini beratnya berubah menjadi 20 kg, setara dengan berat beras sekarung. “Assalamuallaikum, knp”, saya menjawab telphone dari nomor Ainy yang sebenarnya sedang berbicara adalah saudari saya Yaya. “Kekampus ko, pergi cari bahan praktikum?”. “Ok, bray.. sy ke situ”.
Karena kasat-kusut muka, saya sih pede aja, langsung ngmpus ketemu teman-teman. Karena janjiannya jam 8 temen-temen belum pada ngmpul. Hermannya, ups, herannya ngaretnya jam terlalu kendor. Keputusan di jatuhkan untuk segera berangkat ke Malino tempat terdingin di Makassar. Awal perjanjian hanya para penjantan yang berangkat, karena waktu perjalanan yang panjang akhirnya para-para wanita juga berubah menjadi pejantan dan menggantikan pejantan yang hobby menarik jam karetnya.
Saya, Yaya, Yayu, Nia, Putra, Ria, Fadli, Tuti Ainy dan juga Zul. Diantara 10 orang ini ternyata ada dua cinta. Putra dan Ria yang akrab saya panggil mami dan daddy, terkadang saya bahkan lebih suka memanggil mereka telletubis dan skuter berpasangan serta Fadli si bapak ketua tingkat dan Tuti yang sering dijuluki tukang tidur juga berpasangan. Berbeda dengan mereka berempat, kami berenam yang juga tidak sepenuhnya jomblo akhirnya memilih pasangan sesamanya.. haha :D sesame para wanita. Saya dan Yaya, serta Yayu dan Nia. Nah, Zul dan Ainy ni, pasangan yang same-same jaga jarak. Soalnya bukan muhrim bu,,,, wkwkw pis yhe jeng dan abang.
Perjalanan di mulai dengan menyusuri jalan pors kea rah Malino. Bukan hal yang mengherankan, Ipin si motor kesayangan saya boros banget. Kaya pengen bilang putus ama dia, soalnya ngerukin kantong. Haha J Piss Ipin yha.
Setelah kurang lebihnya dua jam perjalanan akhirnya kami sampai di Malino, sempatkan ngisi bensin dan nyerbu warung, mengais-ngais snack yang bukan nama dari ular. Snack akan menjadi santapan santai sambil melototin lumut yang akan dicari. Ups.. lupa.. setoran ke wc juga nggak lupa.
Setelah tuntas dan lega, kita mulai lagi perjalanan nyari lumut, yang kebanyakan diisi dengan adegan gila berfoto. Hal yang sakral dan tidak bias di hindari adalah penyakit gila berfoto ini ni… mau bagaimanapun saya juga termasuk golongan ini. Haha..

Setelah cukup lumut yang dikumpulin untuk bahan praktikum akhirnya kami tancap gas menuju ke atas puncak mencari tanaman kentang. Hebatnya sampai disana hanya si bapak ketua tingkat yang mengambil tanaman bernama Solanum tuberosum. Kami yang tersisa lagi-lagi terjangkit virus yang di bawa mati, virus gila foto. Huh.. memang terkadang menceritakan ini sungguh amat membosankan, berbeda dengan yang menjalani, senang, bahagia, kejang-kejang, keranjingan mirip artis kalau di foto, lagi-lagi saya masuk spesies ini. Gdubrakkk J

Bukan hanya sampai disini, kita putuskan untuk turun dan mencari warung makan. Tempatnya pas depan pasar Malino. Saya pesan nasi campur, entah kenapa saya memang suka yang ada nasinya biar warek alias kenyang. Beberapa di antara kami juga lebih memilih baksos, etss bakso maksudnya karena dingin dan mungkin supaya bias kentut-kentut. Sama halnya dengan Ainy, dia lebih memilih coto menemani perutnya hari ini.
Tragedi memuncak. -_- . Entah koordinasi, kuping yang kurang dikeruk, atau otak yang olang aling, yah entahlah. Kali ini saya berpikir untuk melanjutkan perjalanan pulang. OK. Kami pulang cees..
Wetss… kaos tangan Yaya jatoh. Waduh ni anak buset banget yha.. haha piss buat Yaya. Yaya sih bilangnya biarin aja, nggak usah di ambil, tapi berhubung saya manusia dan saya yang mengemudi juga punya hati, maka saya balik dan memunggut kaos tangan Yaya berwarna hijau bercampur putih, mirip cake pandan. Haha jadi ngiler buu…
Wisss.. muke gile.. anak-anak pada kemane. Bener-bener kagak ada asap ketinggalan biar kita bisa tau pada kemana ni anak-anak. Muke gile si Yaya bilang, yuk kejar anak-anak, pasti masih deket. Yah ela… sampai bili-bili mbak bro. Mana ni bocah-bocah. Hebet bener naik motornya. Ternyata kami salah pemirsa, mereka belok ke jalan yang menuju ke air terjun ketemu jodoh. Memaksakan sisa pulsa, Yaya nelpon Tuti, ets… kita disuruh balik. Buju boneng deh, mulut saya komat kamit, sebel tapi mikir juga, saya bego juga yah.
Sampai muke saya kasat kust, sok pengen marah, tapi lihat muka temen-temen juga kusut semua, akhirnya yah impas deh cees yhe, saya khilaf deh.
Setelah ngmpul wiss… ada konflik ternyata, Putra dan Ria bentrok.. hahaha :D . entah karena apa, mungkin itu urusan rumah tangga mereka. Ampun yhe mbok Ria dan Babe Putra. Perjalanan dilanjutkan untuk nyari spesies lain yang dijadikan bahan untuk praktikum di air terjun ketemu jodoh. Saya pribadi sih kagak tao. Kenapa bisa di kasih nama air terjun ketemu jodoh, mungkin karena tiga muara yang bersatu pada satu tempat, mungkin pernah ada sejarahnya zaman bahola ada dua sijoli yang bertemu di air terjun ini , mungkin karena setiap orang yang berkunjung ke sini langsung pulang dapat jodoh, tunangan atau langsung nikah, mungkin,,, mungkin,, mungkinn… dan saya tidak tau asal mula nama itu.
Karena bermain dikata-kata mungkin saya jadi mumet alias pusing. Secuil curhat..
Ternyata coy, jalan ke air terjunnya juga waow gitu..!!! becek, lumpur, lengket tatut jatuh.. melumuri jalan masuk ke air terjun ketemu jodoh. Yak.. nyampai bray.. pasang standar tancap naik ke arah air terjun. Sebelum masuk banyak orang yang jualan dan banyak yang tawarin jasa paying. Saya binggung, permisi pak.. saya ndag pesan paying soalnya kagak ujan. Wets,,, saya salah gan… ternyata basah biar kagak ujan. Akhirnya serempet warung di dekat air terjun, serbu gorengan dan nyeduh pop mie.



Tak lupa lagi, penyakit dari spesies kami, gila foto kumat.



Foto-foto, jeprat-jepret dapat. Dan akhirnya spesies ini memutuskan gas tancap pulang. Hujan ternyata menerpa.. ada yang korban jaket demi calon istri, ada yang pakai mantel berdua, ada yang makai mantel dan ada yang nyelundup takut basa , ada yang urusan lo kalau basa, yang penting nyampai, dan adapula yang rela basah-basahan berdua. Yah,, mungkin inilah hidup, variasi yha.
Perjalanan pulang. Ngengggg…. Motor melaju…!!!
“Woy.. poge pantatku bolang (nama akrab untuk Yaya)”. “Yha ela,,, pantatku juga keram”. Perjalanan masih panjang, bahu beserta pantat dan berbagai bagian tubuh sudah encok-encok.. untuk menghilangkan gejala-gejala keram, kesemutan akhirnya saya dan Putra adu laju-laju motor, berbeda dengan laju yang sesungguhnya, disini kami hanya bermain laju di bibir, bunyi motor berubah dari monyong masing-masing, siapa monyong paling keras bunyinya, berarti dia paling laju walaupun paling belakang motornya. Yha, adegan ini juga melelahkan, menghilangkan ion tubuh dan aktivitas paru-paru.
Yah.. hari sudah sore, waktu memasuki magrib. Ternyata sampai di tikungan kearah Samata. Ets… bapak ketua tingkat dan Tuti mane?. Ternyata mereka asik singga belanja duren. Gubrakkk..!!! loh loh lhoooo… mane Yayu dan Nia, buju boneng, pede banget ni anak, ngebut lurus aje. Bakalan nyasar ni anak.
Akhirnya kami putuskan belok kea rah Samata karena Yayu bakalan tembus di dekat kuburan Cina dan kita akan ketemu di Kampus. Ets.. salah lagi pemirsa.. Kring-kringg.. bunyi handphone Ainy bordering, ternyata Yayu balik nyari kita, waduh pemirsa, hari sudah gelap. Akhirnya Zul balik dengan Ainy. Saya, Yaya, putra dan Ria asik nangkring tungguin mereka dating. Wetss.. ngmpul semua pemirsa. Terntaya hari ini nyasar semua yha…
Sekarang waktunya pulang bersama…
Belokan ke Samata. Zul, Ainy, Yayu, Nia, Putra dan Ria kok belok kiri.. Oh iya.. mari kita berbelok kiri.. Perjalanan memakan waktu 15 menit,, toeng-toeng.. saya binggung.. kok jalannya gini yha.. kok sempit,, suasana lingkungannya juga sepi.. kagak rame.. dimana ni pemirsa..???
Balik belakang…!!! “Woy,, mau kemana ko, salah jalan” Si pak Ketua tingkat berseru tegas untuk balik.. Lempoh ini bapak,, mengatasi masyarakatnya yang melaju duluan padahal salah jalan.. akhirnya saya putar balik… Hahahaha,, meringas-meringis berpikir tentang kegilaan. 20 menit kemudia. Semua sudah balik menuju jalan yang benar, lurus serta yang engaku ridhoi ya ALLAH. Benar…!!! Ini hal gila..
Akhirnya sampai di kampus.. evaluasi berjalan.
Soal
1.        Windy dan Yaya nyasar.. pulang duluan sampai semua muka kasat kusut.
2.      Yayu dan Nia kepedean jalan terus, kencang pula, kagak mau tengok belakang. Nyasar lagi.
3.      Gara-gara bego, mungkin juga karena gelap, capek, lempoh, kesal, buru-buru, kepinteran.. akhirnya kesepuluh mahasiswa ini juga nyasarnya rame-rame…
HAHAHAHA… :D :D
4.      Besoknya, punya cerita baru…
TAMAT!!!
                

Selasa, 08 Januari 2013

0

KATANYA SI TIMUN ?




Hari ini tanggal 08 Januari 2013, saya sedikit bersyukur ternyata hari ini matahari masih mau menampakkan wajahnya setelah satu minggu murung tanpa semenitpun berusaha menyinari bumi. Sedih rasanya ketika harus memandang setiap sisi ruang di rumah ini dengan pakaian yang tak kunjung kering. Gelisah juga selalu menghampiri tatkala hujan menuntut eksistensinya setiap hari, air dimana-mana tergenang, tanah pun lelah harus meladeni air yang begitu banyak menetesinya ditambah bongkahan batu dan pasir bersama semen yang menghalangi teresapnya air, takut banjir tepatnya :’(
Hari ini saya harus membawa pulang laptop teman yang mau di instalkan kak Wahyu, teman terdekat saya yang terkadang saking dekatnya kita berteman dari hati ke hati. Setelah menunggu kesuksesan kak Wahyu menyelesaikan dalam kurun waktu dua jam, saya rasa bukan waktu yang singkat, tapi singkat rasanya kalau terasa dia teman yang istimewa J. Hujan turun dan kampung tengah mengguncang, perut saya berdering memanggil sahabatnya, saya lapar ternyata. Karena harus menunggu hujan berhenti ternyata ada dua pop mie, makanan para mahasiswa berdompet gepeng. Tapi ternyata pop mie ini rasanya nikmat, mungkin karena makannya berdua, atau apalah yang menjadikannya lebih dari pop mie yang biasanya.
Disamping menunggu hujan yang masih mengguyuri daerah samata dan sekitarnya ternyata saya dan kak Wahyu juga bisa menikmati suasana hujan dengan bermain Ultraman vs Ultragehol. Permainannya simple, cukup dengan mengayunkan tangan dan mengucapkan kalimat “Shiat.. Shiattt,, Haa’-haa’. Hap.. hap,, hiattss.” Dan kemudian lampu Ultraman harus berbunyi “tinug-tinung” dan itu pertanda Ultraman kehabisan energi. Tapi biasanya Ultraman akan bangkit ketika lampunya tinung-tinung (kata televisi sihh), yah karena lampu ultraman sudah menyala akhirnya permainan berakhir dan kembali dilanjutkan dengan permainan panco, sejenis permainan adu kekuatan otot bisep. Awal dan kedua round saya berhasil menaklukkan kak Wahyu, entah karena dia benar-benar lemah ataukah dia pura-pura lemah supya saya kelihatan bahagia dan lompat-lompat  :D setidaknya seperti itu.
Tetteret..terettt.. kakakku datang, Kak Adnan. Kakak kandungku yang kata orang kami bagai pinang di belah dua, mirip tapi tak serupa. Kakak yang paling perhatian, baik dan setia menjadi kakak saya sampai saat ini (karena dia memang akan menjadi kakak saya sampai kapanpun J). Walaupun terkadang saya dan kakak nampak menunjukkan gading masing-masing, adu cek-cok dan sebagainya, tetap dia yang terindah, yang selalu terindah (bukan nyanyian :D ). Setelah kakak menyaksikan adu panco antara Kak Wahyu dan saya, kakak respon tertawa terbahak-bahak ketika melihat saya menang karena kak Wahyu sengaja melemahkan tenaganya. Yah, dia benar-benar sengaja membahagiakanku ketimbang saya harus menangis menuntut kemenangan :D hahaha . itu konyol.
Hujan redah, Kak Wahyu pamit dan pulang karena hari sudah sore, walaupun langit tak pernah menunjukkan kalau cuaca menunjukkan sore hari (orang cuacanya lagi mendung :p ). Setelah itu kakak Adnan bertanya tentang pesan bapak dari merauke, yah, kota kelahiran saya dan orang tua saya masih menetap disana seperti layaknya kampung halaman kami (yah mungkin seperti itu, orang saya lahir dan besarnya disana). Bapak pernah berpesan untuk membeli tegel lantai rumah yang akan dipakai disebelah rumah yang sudah diperluas lagi. Akhirnya malam ini saya dan kakak mengunjungi toko khusus menjual bahan bangunan, nama tempatnya aja Depo Bangunan. Yah, disini tempat dijualnya bahan-bahan bangunan dan kawan-kawannya, saya tidak mampu harus mengucapkan satu persatu bahan yang dijual, karena saya hanya akan membeli tegel lantai (sebenarnya bukan membeli, tepatnya melihat-lihat bentuk yang sesuai dan harga yang pas dulu). Setelah mendarat di TKP (J kaya mau eksekusi sesuatu aja yha, mungkin itu hanya bahasa-bahasa ekstrim yang membuat sifat lugu menjadi kaku, haha). Setelah akhirnya merapikan penampilan, langkah saya dan kakak mengalir ke dalam toko yang tampilannya mantep abis, pintunya aja otomatis kebuka, kaya tuan putri yang datang, (kelihatannya saya norak-norak metal gitu). Setiba di dalam, ngintip-ngintip target akhirnya, target terpanah juga (bukan lagi memburu yha). Setelah target ketemu, harga sesuai dan bentuk menyesuaikan dompet, akhirnya saya dan kakak putuskan untuk tancap gas pulang. Pas pulang, karena kagak beli apa-apa yah sepanjang jalan sampai pintu luar saya masang muka pura-pura gila, mirip kaya orang tanpa dosa yang melenggang keluar. Hahaha, selamet :D
Ketika asik cerita dijalan pulang, eh perut si kakak keruncungan. Wah, ternyata dia kelaparan. Eh......... perjalanan kita sudah dekat dengan rumah dan kakak sudah jauh melewati tempat penjual nasi goreng. Hampir setiap pengen makan nasi goreng kita berlabuh ke warung ini. Kagak tahu apa nama warungnya, tapi warungnya ada pas di samping pertamina Samata.
Dua bungkus terpesan sudah. Nampak anak gadis kecil bapak dan ibu penjual nasi goreng ikut menemani bapak dan ibunya. Saya kasihan melihat anak kecil yang harus ikut orang tuanya kerja hingga larut malam, bahkan mungkin anak ini tetap harus menahan matanya di saat dia harusnya terlelap sama seperti anak berusia empat tahun biasanya. Yah dia anak kecil yang tegar, walaupun badannya kecil dengan rambut gelombangnya, dia tetap setia menemani orang tuanya bekerja. Apalagi ketika hujan turun, sekalipun dingin menusuk tulang belulangnya, air membasahi kaki dan jari halusnya, ataupun tenda terpal yang bocor dan membasahi bajunya, semua terasa ikhlas dihadapinya.
Ketika saya harus beranjak pulang setelah mendapatkan dua porsi nasi goreng yang dikemas dalam kertas plastik. Saya melihatnya berdiri di atas roda di depan gerobak dorong dan entahlah, apakah dia sekedar ingin menghibur ibunya, mempraktekkan pembeli yang datang atau dia lelah ingin pulang. Yah di balik keluguannya dia meneriakkan kalimat yang terdengar asing di teling, sedikit lucu untuk saya dengar, entahlah.. J “Mama, mama aaa,,, beli sitimun”. HAH !!!. Apa dek? SITIMUN. Keluguannya benar-benar mencerminkan kehalusannya mengucapkan kata-kata yang banyak memiliki arti yang beragam. Sitimun? Si-Timun, apakah ada orang yang namanya Timun yah.??? 

Sabtu, 05 Januari 2013

0

SABTU EDISI GALAU


Hari jum’at 04-01-2013 cuacanya mendung-mendung anyep, nyaman untuk melanjutkan tidur tapi kalin ini nggak bakalan nyaman. Saya ada final Morfologi Tumbuhan. Finalnya aja belum terlaksana temen-temen sudah harus membuktikan usahanya untuk masuk final. Syarat finalnya simple sih. Hanya perlu membawa tanaman yang memiliki bagian lengkap. Contohnya nih akar, batang, daun.
Pagi itu saya harus memaksakan diri bangkit dari tempat tidur dengan cuaca yang anyep dan selalu mengundang napsu ingin tidur. #Toeng-toeng. Saya masih tetap santai menanggapi pagi ini, padahal saya sama sekali tidak menjamin satu tanaman untuk syarat final. Tapi upaya melawan godaan cuaca, hehe J kaya berat gitu. Akhirnya saya bangun juga sih, walaupun hatiku banyak melaporkan kata-kata tidak logis live disampaikan langsung dari hati yang paling dalam.
Setelah mandi dan bersiap-siap (kagak pernah sarapan sih, antara malas makan, malas masak atau tepatnya kagak ada makanan. Yah sejenis penyakit remaja kini kalau hidupnya di tantang untuk hidup sendiri). Dengan tampang pura-pura segar akhirnya saya nyampai juga di kampus. Nyampainya sih juga pura-pura sempurna walaupun ditangan tak ada satupun tanaman untuk masuk final. Tapi keraguanku yang ditutupi oleh kesegaranku berawal dari keterkejutanku melihat Yayu dan Nia teman saya yang juga sedang mengais-ngais tanaman di kebun fakultas. Entah tanaman atau hanya rerumput yang sibuk mereka identifikasikan bercampur dengan kegagalan mereka mencabut tanamannya.
Singkat cerita saya datang dengan tampang meyakinkan, mengkin tampang saya harus mengatakan saya sudah mendapatkan tanamannya. Padahal bicara kenyataan Yayu dan Nia bersamaan bertanya pada saya “sudah ada tanamanmu?”. Karena tampangku meyakinkan sekali akhirnya saya juga yakin akan memberikan jawaban yang meyakinkan yha saya menjawabnya “tidak ada sama sekali”. L
Setelah berkomat-kamit menyiapkan strategi untuk mendapatkan tanaman itu akhirnya kita putuskan untuk keliling-keliling fakultas nyari tanaman yang bagus di eksekusi. Semenit berjalan mata Nia tajam melihat bayam di sudut gedung. Atau mungkin saking di lapar dia mengingat sayur bayam yang di bening plus tempe dan sambal terasi, makanya tajam penglihatannya. Akhirnya tanaman itu di eksekusi Yayu yang menariknya dengan tenaga dalam sampai tak tercabut-cabut, untung dia tidak membuktikan kalau usahanya sudah maksimal dengan membuang gas hasil tekanan mencabut tanaman bayam, sejenis bom mematikan bernama kentut. Saya melihat kesungsangan yang terjadi padanya akhirnya saya membantunya dengan sekali tarikan. Akhirnya bayamnya copot, saya, Yayu dan Nia akhirnya melanjutkan kegiatan shoping tanaman. Sudah berjalan sampai ke belakang gedung sampai akhirnya berujung ke gedung rektorat, usaha untuk mendapatkan tanaman saya tak kunjung sirna. Tiba-tiba kami berhenti pada satu daerah disisi belakang gedung rektorat yang jelas ada tanaman yang biasa digunakan orang untuk memerahkan bibir secara otomatis dan menikmatkan makanan yang kita makan. Cabe, cabe yang kita lihat sarat dengan buahnya yang masih hijau, layak kalau dicabut dan membawanya pulang ke kos yang sedang krisis segalanya. Setelah sibuk berdiskusi kami memikirkan sesuatu yang konyol ketika pohon cabe yang kita akan cabut itu tidak akan pernah tercabut, bagaimana tidak cabe itu nampak subur dan batangnya besar. Karena tidak mungkin kami bertiga akan mencabutnya diam-diam sedangkan ini sulit dilakukan. Apa jadinya kalau penjaga keamanan melihat usaha kami, jangan pikir kami akan digantung di gedung fakultas sambil berkomat-kamit meminta ampun. Ternyata 4 cm di sebelah pohon cabe ada pohon terong, waduh ni kampus nanam sayuran untuk di masak yha?. Yha pemikiran kita tidak nyampai pada usaha mencabut terong, soalnya terongnya mengalahkan kesuperan batang cabe.
Berjalan terus menyisiri samping gedung dan kami melihat jamur-jamur yang subur hidup di bawah bunga-bunga pagar yang tinggi. Setidaknya ketika nanti praktikum di laboraturium kita tak perlu jauh-jauh mencari jamur. Perjalanan kita terhenti pada tanaman salak yang baru saja tumbuh, tanpa pikir panjang saya mencabutnya dengan hati-hati dan melanjutkan perjalanan ke kelas untuk final.
Ternyata setelah sampai di kelas final baru di mulai untuk kelas A, sedangkan saya kan kelas B. Itupun no absen saya 70 karena nama saya Windy, dan itu letaknya di ujung bawah dan belakang halaman absensi. Menunggu giliran itu sesuatu yha. Saya menunggunya sambil sibuk mempelajari materi dengan komat kamit membaca nama latin tumbuhan. Setelah payah menunggu sampai pukul 14.00 akhirnya komunitas kelas B yang terkenal dengan gosmter alias gosip seputar mahasiswa ternama, haha J.
Wahyuni yang namanya sama-sama awalan W dengan saya, dia sibuk bercerita pengalaman kemarinnya yang membuat teman-teman saya sibuk menahan napas untuk tidak tertawa besar. Kata Wahyuni dengan nada khas sulawesinya seperti ini: weh, ko tau kemarin pulang ka sama Afni dan Baya, baru jatuh ka lagi, malu-maluku. Gara-gara Windy ini, (loh kok gara-gara saya yah. Dia yang jatuh aku yang salah. Yha mungkin ini tragedi emosional. Hahaha :D ). Jatuh ka ke samping karena ada lubang, keseimbanganku hilang dan kaki ku tidak sampai di tanah. Jatuhnya itu menyedihkan, bukan karena benturan yang keras melainkan karena jatuhnya yang gemulai. Saya sibuk menahan beban dua temanku yang beratnya lumayan 60 kg. Afni dan Baya terbalik ke belakang, kaki mereka terangkat di atas motor dan badan mereka tidur di aspal jalan. Parahnya ini musim hujan, baju mereka penuh dengan lumpur yang warnanya cokelat. Akhirnya saya binggung dan khawatir dengan motor saya dan memutuskan untuk menarik berdiri motor sementara dua temannya masih asik tidur diaspal berlumur lumpur dan mengangkat kakinya di atas motor. Untungnya tidak apa-apa dan kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang. Baya mengatakan Bismillahhirahmanirahim, Afni sudah ko bismillah?tanya Baya. Dengan tampang yang gugup bercampur malas tau dia menjawab belum. Baya langsung mengeluarkan teori yang bunyinya pantasan jatuh orang kita tidak ada yang bismillah.
Sementara menunggu giliran, akhirnya kami semua masuk di giliran paling terakhir. Finalnya ribet, tapi saya masih mengingatnya dengan baik dan berharap hasilnya akan baik pula. Wah setelah saya final, saya memutuskan untuk pulang. Tapi kenapa kepulangan saya tidak berjalan dengan baik, kunciku hilang. Setelah banyak berpikir panjang saya di jemput kak Wahyu untuk mengambil kunci cadangan di rumah. Ternyata kunci cadangannya hilang dan motor saya yang namanya Ipin terkunci lehernya dan harus menunggu usahaku melepaskan lehernya. Huh L
Malam harinya saya bersama kakakku dan kak Wahyu ke kampus untuk sedikit mencari kunci yang mungkin jatuh, tetapi ternyata tidak ada. Saya dan kak Wahyu memanggil tukang bengkel untuk memperbaiki dengan cara yang halus. Akhirnya Ipin harus pulang dengan keadaan compang-camping. Malam ini kami memutuskan untuk menduplikat kunci motor Ipin tapi usaha kami sirna, tempat duplikat tertutup dan hujan menyambut kami di tengah kegelapan malam.
Esoknya, Sabtu 05-01-2013 saya sibuk mengais-ngais makalah yang semalam saya bikin sampai harus bergadang. Apalagi hari ini 2 matakuliah menungguku untuk mempresentasikan makalahku. Keberangkatanku tertunda karen hujan yang deras dan kendaraan yang tidak memungkinkan. Tidak mungkin saya harus menggunakan Ipin dalam keadaan seperti ini, hanya dengan menyambung kabel telanjang Ipin dengan mudah bisa di pakai kemana-mana, dan itu tidak mungkin saya lakukan ketika penglihatanku tidak selalu tertuju pada Ipin.
Karena menunggu Yayu yang akan menjemputku, saya memutuskan untuk mengapresiasikan perasaan saya dengan menulis status di wall facebook saya. “Sabtu Edisi Galau”

Selasa, 01 Januari 2013

0

BANJIR TERASI RASA KEJU


Hari ini hari pertama di tahun 2013, hari pertama yang benar-benar mengajari saya cita rasa yang beraneka. Tentu, bagaimana tidak hari ini hujan turun seharian. Semua air risau mau mengalir kemana, begitu juga dengan saya yang risau lihat air menyelimuti rumah mini-mini saya kediaman yang sederhana mirip istana yang sesekali saya juluki planet anak gaul.
Malam ini pukul 20.00 wita, saya masih sibuk menarikan jari jemariku di atas laptop sembari sesekali tersenyum entah karena siapa, apa, dan kenapa. Mungkin seperti itu awal sebelum kejadian banjir terasi rasa keju ini.
Singkat cerita, kakak saya, Adnan teriak histeris, “HAH!!!” tapi suaranya nggak alay loh, karena dia sosok yang anti alay. “wew, dari mana nih air yha”, maklum saja kejadian ini pertama kali terjadi di rumah saya dan rumah-rumah saya sebelumnya. Maksudnya rumah orang tua saya waktu saya masih menjadi gulma mama bapak, walaupun sekarang rumah ini juga bukan punya saya sih. Hehe J
Usut punya usut mata saya dan kakak menelusuri sumber air datang. Diluar dugaan, kamar mandi saya kerendem, tiba-tiba air bah masuk dari pintu depan, air bah yang kecepatannya 0,0001 mm/s (kagak tau ni nulisnya bener kagak) air itu dengan lambat meresapi seluruh lapisan rumah yang bikin saya jadi kebakaran jenggot, walau hujan saya juga bisa kebakaran jenggot yha -_-
“Kakak, banjir.. lihat air di depan. Tenggelam rumah”. Waduh air hujan bakalan tenggelamkan rumah dengan ketinggian 5 cm di teras rumah. “kakak perbaiki selokan di depan supaya airnya tidak masuk ke rumah”. Karena hujan deras di luar kakak saya binggung, masa mau hujan-hujanan tengah malam, dia bilang ke saya “besok aja deh, sudah malam nanti orang lihat lagi”. Dengan cepat saya tanggapi “buset ini orang, waras kagak, nah air aja udah masuk rumah dia masih bilang besok aja, ia kalau airnya kagak nenggelamin kita”, sayang saya nyolotnya dalam hati dong.
Saya keluar dengan kakak dan lihat tragedi mengenaskan, behh.. bahaya ni bahasa. Yha air tergenang dimana-mana, kakak langsung saya instrusikan nyari skop, skop itu mirip sendok tapi bukan untuk nyendok nasi melainkan nyendok pasir. Saking bergairahnya kakak kena hujan dia ngeruk pasir kayak kapal keruk. Tiba-tiba tetangga jauh saya datang bawa sendok masing-masing dan bantuin kakak ngeruk pasir.
Setelah selesai kita baru bisa bernapas, yha walaupun dari tadi juga bernapas sih. Hanya legah pun terasa. Sisanya binggung nih mau tidur dimana, nah rumah aja terisi pasir satu ret plus daun-daun pohon yang kecil-kecil. Kepala mau meledak. Sejenak saya terpikir pantesan hujan seharian karena pas kemarin malam penyambutan pergantian tahun 2012 ke 2013 nyalain kembang api, jedar jedor gitu bunyinya, kasihan langit, dia kesakitan, kaget-kaget dan susah tidur, makanya paginya dia nangis sampai seharian. Banjir deh. Tugas kita sekarang bujuk langit supaya kagak nangis. Tiba-tiba saya nyadar atas halusinasi saya beberapa menit yang lalu.
Gara-gara banyak air akhirnya saya beli pop mie enam gelas, tiga untuk kakak dan tiga untuk saya. Setidaknya dingin-dingin bisa tolak angin sebanyak mungkin, ketimbang masuk anginnya. Parahnya sekarang kakak mirip seperti orang yang lagi MKKB alias masa kecil kurang bahagia. Dia tua, maksudnya tua dari pada saya, kok maen air macam nggak pernah nemu air seabad. Tapi wajar lah, kan udik belum pernah rasain banjir.
Pop mie habis. Saya kembali ke kamar sambil mengeluhkan sekaligus melaporkan kejadian ini ke komisi akun sosial facebook. “Rumahku banjir”, itu status saya malam ini. Komennya banyak mulai dari teman dekat saya yang saking dekat jadi teman hati, ternyata dia juga ngalami kejadian yang sama, kata dia sih rumahnya juga kebanjiran dan parahnya ada mata air keluar di dalam rumahnya. Waduh bahaya rumah dia yha. Tapi tenang pemirsa itu hanya kalimat hiperbola.
Saking banyak mengeluh ada temen tag-tag statusnya. Entah dari mana dia bisa vonis saya dapat juara satu di komunitas pemalas. Yang didalamnya ada 10 pemenang. Tiga terbesarnya di duduki saya, aini dan yaya. Karena tidak terima saya komentari “saya kategori pertama”. Datang Yaya yang tanpa dosa hanya komen “saya nggak termasuk”. Eh si Wilda pembuat status balas komen kita “windy@ paling terdeteksi namanya, yaya @ buta yha, ada namamu di situ”. Karena anarkis lempar-lemparan batu di facebook Yaya dengan tegas bilang “HAPUS!”. Cibir mencibir berujung pada komentar ngaco Aini“saya nggak termasuk dong”. Saya heran sebanyak ini kah lulusan SMA yang nggak tau baca. Saya langsung komen“ juara dua kamu aini, hampir kau kalahkan saya”. Karena saya juara satu termalas dari yang terajin mereka tidak terima, saya heran ini hanya status tapi orangnya membuas semua.  Panjang cerita akhirnya saya bilang aja kalau saya jadi pemecah rekor, setidaknya mereka puas. Tiba-tiba si Yaya komen dan bawa-bawa nama calon gubernur sulawesi selatan (mohon jangan tersinggung bapak calon gubernur). No 1. Windy vs Ilham. No 2. Ainy vs Yasin dan No.3 Yaya vs.... Mentang-mentang No. 3 nama dia makanya hanya di tulis bla bla blaa. Akhirnya wilda memperbaiki keadaan dengan komentarnya “Yaya vs GARUDA-NA” hehe :D gua ngakak deh ditengah kebanjiran ini.
Sekarang pindah masalah, chatting facebook bunyi. Temanku ngirim pesan. “Senior”.. padahal saya seumuran, tapi berhubung saya jadi kakak pembimbing dia di lembaga informasi mahasiswa yang berkumpul para wartawa kampus akhirnya saya di cap jadi senior. Pesannya saya replay dengan mengeluh “rumahku banjir”, dengan gaya bahasa khas sulawesi“kodong, kubawakanki mesin”. Saya binggung kok mau di bawakan mesin, singkat cerita dia mau nyedot aer di rumah, junior yang baik .. hehehe J pisss buat saburo.
Karena banyak curhatku sampai kemalaman belum tidur akhirnya saya putuskan untuk nyuci rumah. Masang selang dan nyemprot lantai rumah sampai bersih. Ternyata nyemprot rumah nggak asal nyemprot , selangnya ternyata terlipat-lipat, airnya ngambek dan nggak mau mengalir, mesin airnya bersin-bersin lagi, mungkin karena masuk angin. Yha karena stres rumah kotor saya pun stres mengumpat sepanjang pekerjaan. Coba aja kalau saya bisa memutar kembali masa-masa SD saya dulu. Ada teman saya Lina namanya. Setiap pulang sekolah waktu musim hujan yang jarak rumah kita sekitar 3 km dengan mengayun sepeda mini selalu membawa kita pada kelakuan ekstreme. Lina mengajariku melantunkan aji-aji/jimat atau mantra tepatnya seperti ini “matahari kalah, hujan menang” begitu sepanjang jalan. Katanya supaya matahari bangkit dari keterpurukan akan menang dan hujan kalah karena dia terlalu sombong dan besar kepala. Padahal selama perjalanan itu hujan tak kunjung berhenti, entah kenapa mantra itu terekam erat di memori. Dan sampai hari ini mantra itu masih aku gunakan. Sungguh konyol haha :D
Karena banyak mengumpat sama lantai yang kotor dengan kata-kata kotor. Hehehe J. (jangan sampai anda bayangkan saya akan melemparkan kata-kata tidak pantas yha).
Saya nemu terasi di dapu, dan berpikir, momen malam ini seperti terasi yang rasanya nyengat, mantap dan khas tapi sedikitn asin seperti keju. Tapi keduanya memang benar-benar punya cita rasa yang menarik. Banyak rasa tercipta malam ini di istana planet gehol, kediaman para anak-anak gaul. (Oh yah, fotonya-fotonya bisa dilihat di link ini http://windysaharesai.blogspot.com/ )
1 Januari 2013.

Blogroll